Home » » Sosiologi dlm Keluarga

Sosiologi dlm Keluarga

Written By MOH. AFLACH on Rabu, 19 Januari 2011 | 20.20


Sosiologi dalam Keluarga
1.      1.      Definisi Keluarga
Keluarga adalah kelompok sosial yang terdiri atas dua orang atau lebih yang mempunyai ikatan darah, perkawinan atau adopsi.[1]
Sedangkan Morgan menyatakan bahwa keluarga merupakan suatu group sosial primer yang didasarkan pada ikatan perkawinan (hubungan suami-istri) dan ikatan kekerabatan (hubungan antar generasi, orang tua-anak) sekaligus. Namun secara dinamis individu yang membentuk sebuah keluarga dapat digambarkan sebagai anggota dari group masyarakat yang paling dasar yang tinggal bersama dan berinteraksi untuk memenuhi kebutuhan individu maupun antar individu mereka.[2]
Bila ditinjau berdasarkan undang-undang no. 10 tahun 1972, keluarga terdiri dari atas ayah, ibu dan anak karena ikatan darah maupun hukum.
Keluarga dalam mana individu dilahirkan dan mengalami sosialisasi yang terpenting disebut keluarga orientasi, sedangkan keluarga yang dibentuknya melalui perkawinannya dan anak-anak sebagai hasil perkawinannya itu disebut keluarga prokreasi.[3]
Kerap kali keluarga itu tidak hanya terdiri atas suami istri dan anak-anaknya, melainkan juga, nenek, kakek, paman, bibi, kemenakan dan saudara-saudara lainnya oleh karena itu keluarga merupakan institusi sosial yang bersifat universal dan multi fungsional

2.      Struktur Dalam Keluarga.
2.1  Struktur internal keluarga.
Selanjutnya dijelaskan bahwa ada tiga elemen utama dalam struktur internal keluarga yaitu
1.       Status sosial, dimana di dalam keluarga terdapat tiga struktur utama, yaitu bapak/suami, ibu/istri dan anak. Sehingga keberadaan status sosial menjadi penting karena dapat memberikan rasa memiliki, karena ia merupakan bagian dari sistem tersebut.
2.       Peran sosial, yang menggambarkan dari masing-masing individu atau kelompok menurut status sosialnya.
3.       Norma sosial, yaitu menggambarkan sebaiknya seseorang bertingkah laku dalam kehidupan sosial.[4]

2.2  Pola Keluarga
Corak hubungan orang tua-anak sangat menentukan proses sosialisasi anak. Corak hubungan orang tua-anak ini, berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Fels Reseach Institute, dapat dibedakan menjadi tiga pola, yaitu:
1.      Pola menerima – menolak, pola ini didasarkan atas taraf kemesraan orang tua terhadap anak.
2.      Pola memiliki – melepaskan, pola ini didasarkan atas sikap protektif orang tua terhadap anak.
3.      Pola demokrasi – otokrasi, pola ini didasarkan atas taraf partisipasi anak dalam menentukan kegiatan-kegiatan dalam keluarga. Pola otokrasi berarti orang tua bertindak sebagai diktator terhadap anak, sedangkan dalam pola demokrasi, sampai batas tertentu anak dapat berpartisipasi dalam keputusan-keputusan keluarga.[5]

2.3  Klas Sosial Keluarga
Masyarakat itu mula-mula terdiri dari small family (keluarga kecil), yaitu suatu keluarga yang terdiri dari ayah, ibu dan anaknya paling banyak 2 atau tiga anak. Pada keluarga kecil ini anak-anak lebih banyak menikmati segi sosial ekonomi, dan lebih banyak diperhatikan oleh orang tuanya, yang terpenting adalah agar anak-anak mendapatkan kualitas yang baik.
Dalam hal ini dipelajari klas-klas sosial yang ada hubungannya dengan cara mendidik anak , dan membedakan menjadi 3 macam:
1.       Upper Class : dalam klas ini sikap terhadap anak adalah bangga dan menaruh penghargaan. Anak diharapkan untuk membantu keluarganya, mereka berjuang agar dapat mendidik sebaik mungkin, baik secara jasmani, sosial maupun intelektual.
2.       Midle Class : dalam klas ini sifatnya lebih bebas mengasuh anak.
3.       Lower Class : dalam klas ini keinginan-keinginan seperti Upper Class itu kurang karena alasan-alasan ekonomi dan sosial.[6]

2.4  Macam Keluarga
Dalam kehidupan sehari-hari telah diketahui bahwa sekolah dan keluarga itu membagi tanggung jawab untuk mendidik anak. Adapun keluarga yang mendidik anak-anaknya ada 3 macam, yaitu:
1.     Keluarga otoriter. Disini perkembangan anak itu semata-mata ditentukan oleh orang tuanya.
2.      Keluarga demokrasi. Disini sikap orang tua dan anak lebih fleksibel dan dapat menyesuaikan diri.
3.      Keluarga liberal. Disini sikap orang tua adalah memberi kebebasan pada anaknya dalam bertindak dan berbuat.[7]

3.      Fungsi Keluarga Sebagai Lembaga Pendidikan Pertama dan Utama.
3.1  Fungsi Biologis dan Non Biologis
Ditinjau berdasarkan peraturan pemerintah RI no. 21 tahun 1994 mengenal penyelenggaraan pembangunan keluarga sejahtera, telah dirumuskan delapan fungsi keluarga sebagai jembatan menuju terbentuknya sumber daya pembangunan yang handal dengan ketahanan keluarga yang kuat dan mendiri, yaitu:
1.      Fungsi Keagamaan
Dalam keluarga dan anggotanya fungsi ini didorong dan dikembangkan agar kehidupan keluarga menjadi agamis yang penuh iman dan taqwa kepada Tuhan yang Maha Esa.
2.      Fungsi Sosial Budaya
Fungsi ini memberikan kesempatan kepada keluarga dan anggotanya untuk mengembangkan kekayaan budaya bangsa yang beraneka ragam dalam satu kesatuan.
3.      Fungsi Cinta Kasih
Hal ini berguna untuk memberikan landasan yang kokoh terhadap hubungan antar anggota keluarga, sehingga keluarga menjadi wadah utama berseminya kehidupan yang penuh cinta kasih lahir dan batin.
4.      Fungsi Melindungi
Fungsi ini dimaksudkan untuk menambah rasa aman dan kehangatan pada setiap anggota keluarga.
5.      Fungsi Reproduksi
Fungsi ini merupakan mekanisme untuk melanjutkan keturunan yang direncanakan dan menunjang terciptanya kesejahteraan manusia.
6.      Fungsi Sosialisasi dan Pendidikan
Fungsi yang memberikan peran kepada keluarga untuk mendidik keturunan agar bisa melakukan penyesuaian dengan alam kehidupannya dimasa yang akan datang.
7.      Fungsi Ekonomi
Sebagai Unsur Pemenuhan Kebutuhan (sandang, pangan, papan), pendukung kemandirian dan ketahanan keluarga.
8.      Fungsi Pembinaan Lingkungan
Memberikan kepada setiap keluarga maupun menempatkan diri secara serasi, selaras, seimbang sesuai dengan daya dukung alam dan lingkungan dinamis.[8]

3.2  Pentingnya Keluarga
Keluarga merupakan kelompok sosial yang pertama dimana anak-anak menjadi anggotanya. Dan keluargalah sudah barang tentu yang pertama-tama pula menjadi tempat untuk mengadakan sosialisasi kehidupan anal-anak. Ibu, ayah, saudara serta keluarga yang lain adalah orang-orang yang pertama dimana anak mengadakan kontak dan yang pertama pula pengajar pada anak tersebut sebagai mana ia hidup dengan orang lain.
Kondisi-kondisi yang menyebabkan pentingnya peranan keluarga dalam proses sosialisasi anak, ialah:
a.       Keluarga merupakan kelompok kecil yang anggota-anggotanya berinteraksi face to face secara tetap, dalam kelompok yang demikian perkembangan anak dapat diikuti dengan seksama oleh orang tuanya dan menyesuaikan secara pribadi dalam hubungan sosial lebih mudah terjadi.
b.      Orang tua mempunyai motivasi yang kuat untuk mendidik anak karena anak merupakan buah cinta kasih hubungan suami istri. Motivasi yang kuat ini melahirkan hubungan emosional antara orang tua dan anak.
c.       Karena hubungan sosial dalam keluarga itu bersifat relatif tetap, maka orang tua memainkan peranan sangat penting terhadap proses sosialisi anak.
Keluarga    juga    berpengaruh    terhadap    anggota-anggotanya, karena:
ð     Keluarga memberikan kesempatan yang unik kepada anggotanya untuk menyadari dan memperkuat nilai kepribadiannya.
ð     Keluarga mengatur dan menjadi perantara hubungan anggota-anggotanya dengan dunia luar. Dalam hal ini ada 2 macam corak keluarga, yaitu:
a.       Keluarga terbuka, yaitu keluarga yang mendorong anggota-anggotanya untuk bergaul dengan masyarakat luas.
b.      Keluarga tertutup, yaitu keluarga yang menutup diri terhadap hubungan dunia luar.[9]


3.3  Peranan Keluarga terhadap Perkembangan Anak
Adanya interaksi antara anggota keluarga yang satu dengan yang lain itu menyebabkan seorang anak menyadari akan dirinya bahwa ia berfungsi sebagai individu dan juga sebagai makhluk sosial serta mempelajari adat istiadat yang berlaku dalam masyarakat, ini yang memperkenalkan adalah orang tuanya, sehingga perkembangan seorang anak didalam keluarga itu sangat ditentukan oleh kondisi keluarga dan pengalaman-pengalaman yang dimiliki dari orang tuanya.
Faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan anak :
a.       Status Sosial Ekonomi
Keadaan sosial ekonomi keluarga mempunyai peranan terhadap perkembangan anak, misalnya keluarga yang perekonomiannya cukup, menyebabkan lingkungan materiil yang dihadapi oleh anak di dalam keluarganya akan lebih luas, sehingga ia dapat kesempatan uang lebih luas di dalam memperkenalkan bermacam-macam kecakapan, yang mana kecakapan-kecakapan tersebut tidak mungkin dapat dikembangkan kalau fasilitasnya tidak terpenuhi.
b.      Faktor Kebutuhan Keluarga
Yang dimaksud dengan faktor keutuhan keluarga itu terutama ditekankan kepada strukturnya yaitu keluarga yang masih lengkap,ada ayah, ibu, dan anak. Disamping itu diperlukan pula keutuhan interaksi antara anggota satu dengan anggota yang lain.
c.       Sikap dan Kebiasaan Orang Tua.
Sebenarnya anak dalam kehidupan keluarganya selalu mengimitasi, mengidentifikasi, mengsugesti terhadap sikap dan kebiasaan dari orag tua, yang kemudian menjadi sikap dan kebiasaan yang dimiliki anak.[10]

3.4  Keluarga Sebagai Landasan Interaksi Sosial Anak
Kualitas apapun yang diharapkan tanpa memiliki watak dam moral yang baik, maka akhirnya SDM itu tidak akan ada manfaatnya bagi kehidupan bersama, pendidikan watak dan moral bukan mata pelajaran, akan tetapi kebiasaan yang diperoleh dari latihan hidup sehari-hari, oleh karenanya, pendidikan watak dan moral tidak dapat hanya diserahkan hanya kepada sekolah, tetapi harus dibiasakan di rumah (keluarga), di Masyarakat dan di sekolah secara bersama-sama.[11]
Kritik terhadap peran sekolah sekarang ini semakin kuat, bahwa sekolah tidak melaksanakan pendidikan sesuai harapan masyarakat. Di sekolah anak hanya dijadikan korban kurikulum dan target standarisasi Nem. Perkembangan pribadi anak tidak pelayanan. Faktor detrminan fisik saja tidak banyak sumbangannya dalam membentuk pribadi mereka. Pengalaman terdidik mereka yang mampu mengorganisasi aktualisasi dirinya itu seharusnya menjadi faktor determinan positif, baik yang terjadi di keluarga maupun di sekolah, oleh karena itu perbaikan pendidikan dari yang terjadi sekarang mengarah pada terjadinya perkembangan pribadi anak yang integral perlu dilakukan untuk keselamatan generasi nanti. Peningkatan tanggung jawab keluarga dalam pendidikan mulai perlu digunakan, meskipun dalam pendidikan keluarga yang non kurikuler ke sekolah yang kurikuler.[12]
Pendidikan anak adalah tanggung jawab bersama antara keluarga, masyarakat dan pemerintah. Sekolah hanyalah pembantu kelanjutan pendidikan dalam keluarga, sebab pendidikan yang pertama dan utama diperoleh anak ialah dalam keluarga. Peralihan bentuk pendidikan informal ke formal memerlukan kerjasama antara keluarga dan sekolah. Sikap anak terhadap sekolah terutama dipengaruhi oleh sikap orang tua mereka. Juga sangat diperlukan kepercayaan orang tua terhadap sekolah yang menggantikan tugasnya selama di lingkungan sekolah.[13]

BAB III
KESIMPULAN

1.      Keluarga adalah kelompok sosial yang terdiri atas dua orang atau lebih yang mempunyai ikatan darah, perkawinan atau adopsi.
2.      Struktur internal keluarga meliputi: status sosial, peran sosial, dan norma sosial.       
Pola keluarga meliputi: pola menerima-menolak, pola memiliki-melepaskan dan pola demokrasi-otokrasi.
Klas sosial keluarga meliputi: Upper class, middle class, dan lower class.
Macam keluarga meliputi: keluarga otoriter, keluarga demokrasi, dan keluarga liberal.
3.      Fungsi keluarga ada 8 yaitu: fungsi keagamaan, fungsi sosial budaya, fungsi cinta kasih, fungsi melindungi, fungsi reproduksi, fungsi sosialisasi dan pendidikan, fungsi ekonomi, dan fungsi pembinaah lingkungan.

DAFTAR PUSTAKA

1.      Abu Ahmadi, Sosiologi Pendidikan (Jakarta: Rineka Cipta, 2004), 166.
2.      Djohar, MS, Pendidikan Strategik: Alternatif Untuk Pendidikan Masa Depan (Yogayakarta: Lesfi, 2003), 109.
3.      Media_Wahini, htm # Makalah Filsafah Sains.
4.      Zahara Idris, Dasar-dasar Kependidikan (Padang: Angkasa Raya, 1981), 120.


[1]  Abu Ahmadi, Sosiologi Pendidikan (Jakarta: Rineka Cipta, 2004), 166.
[2]  Media_Wahini, htm # Makalah Filsafah Sains.
[3]  Abu Ahmadi, Sosiologi Pendidikan (Jakarta: Rineka Cipta, 2004), 168.
[4] Media – Wahini, htm # Makalah falsafah Sains.
[5] Abu Ahmadi, Sosiologi Pendidikan (Jakarta: Rineka Cipta, 2004), 120.
[6] Abu Ahmadi, Sosiologi Pendidikan (Jakarta:Rineka Cipta, 2004), 110
[7] Abu Ahmadi, Sosiologi Pendidikan (Jakarta:Rineka Cipta, 2004), 112
[8] Meda-Wahani, htm # Makalah Falsafah Sains
[9] Abu Ahmadi, Sosiologi Pendidikan (Jakarta:Rineka Cipta, 2004), 175
[10] Abu Ahmadi, Sosiologi Pendidikan (Jakarta:Rineka Cipta, 2004), 91-92.
[11] Djohar, MS, Pendidikan Strategik: Alternatif Untuk Pendidikan Masa Depan (Yogayakarta: Lesfi, 2003), 68.
[12] Djohar, MS, Pendidikan Strategik: Alternatif Untuk Pendidikan Masa Depan (Yogayakarta: Lesfi, 2003), 109.
[13] Zahara Idris, Dasar-dasar Kependidikan (Padang: Angkasa Raya, 1981), 120.
Share this article :

0 komentar:

Poskan Komentar

Popular Posts



 
Support : Your Link | Your Link | Your Link
Copyright © 2013. GUS AFLACH - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Modified by CaraGampang.Com
Proudly powered by Blogger